Web Download Mod Aplikasi dan Software Gratis dan Aman

Kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan

Kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan

             Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat sekolah dasar. Data Balitbank Depatemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jendral Binbaga Depatemen Agama Tahun 2000 menunjukan angka pertisipasi murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta jiwa siswa). Pencapaian APM ini termasuk kata gori tinggi. Angka partisipasi murni pendidikan di SLTP masih renda yaitu 54,8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembagan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu di perlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidak meretaan tersebut.

  1. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan

             Hal tersebut dapat di lihat dari banyaknya lulusan yang meganggur. Data BAPPENAS (1996) yang di kumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran yang terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/SO sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6% sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kessempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,7%. Menurut data balitbang DEPDIKNAS 1999, setiap tahunya 3juta anak puuutus sekkolah dan tidak memiliki ketrampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan  dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

Sumber :

https://fgth.uk/