Web Download Mod Aplikasi dan Software Gratis dan Aman
Sejarah Muhammadiyah MASA REFORMASI DAN PASCA REFORMASI

Sejarah Muhammadiyah MASA REFORMASI DAN PASCA REFORMASI

Sejarah Muhammadiyah MASA REFORMASI DAN PASCA REFORMASI

Sejarah Muhammadiyah MASA REFORMASI DAN PASCA REFORMASI

KH Azhar Basyir tidak sampai akhir periode

kepemimpinan karena ia meninggal dunia pada 28 Juni 1994. Jabatan Ketua Umum Muhammadiyah kemudian dilanjutkan oleh Dr H Amien Rais yang dikukuhkan pada Muktamar 1995 di Yogyakarta. Amien Rais di periode selanjutnya juga terpilih kembali ketua umum yakni periode 1995-2000. Tidak bisa dipungkiri aktivitas Amien Rais di Muhammadiyah dilatari keprihatinannya atas kondisi politik nasional yang menurutnya perlu direformasi.

Setelah rezim Soeharto lengser, Amien Rais mendirikan Majelis Amanah Rakyat (MARA) sebagai bentuk solusi pasca-reformasi. Ia lantas membentuk Partai Amanat Nasional (PAN) yang secara fenomenal mampu sukses di pemilu 1999. Berkat kesuksesan PAN berada di 5 besar perolehan suara nasional, Amien Rais didapuk menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Namun konsekuensinya, Amien harus melepas jabatan Ketua Umum Muhammadiyah.

Posisi Amien Rais digantikan oleh Prof.Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif hingga tahun 2005. Pria yang akrab disapa Buya Safi’i ini dikenal sebagai tokoh yang pluralis dan tak sedikit menyumbang gagasan-gagasan keislaman untuk Muhammadiyah dan Indonesia.

Pada masa kepemimpinannya, Buya Safi’i mengedepankan proses dinamisasi Muhammadiyah agar secara optimal menggerakkan usaha-usaha tajdid dan cita-cita pencerahan yang ingin diraihnya. Salah satunya adalah mendorong kebangkitan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sebagai pelaku sejarah masa depan yang disiapkan Muhammadiyah.

Ketua Umum Muhammadiyah berganti lagi pada 2005. Dalam muktamar ke-44 di Jakarta, terpilihlah nama Prof. Dr. KH Din Syamsuddin. Din Syamsuddin dikenal sebagai politisi partai Golongan Karya (Golkar) sebelum menjadi ketua. Din mempunyai pemikiran kritis terhadap pemerintah. Ia juga dikenal sebagai sosok yang plural, toleran terhadap agama lain, namun masih memegang prinsip Islam secara kuat.
Di bawah kepemimpinan Din, Muhammadiyah mampu tampil di kancah internasional. Hal ini ditunjukkan melalui

aktifnya Muhammadiyah dalam isu perdamaian, multikulturalisme, dialog antaragama, dan resolusi konflik. Sebagai contoh, Muhammadiyah turut memprakarsai World Peace Forum bersama Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC).

Muhammadiyah juga aktif sebagai anggota ICG (International Contact Group) dalam penyelesaian konflik Filipina. Din Syamsuddin sukses menjadi ketua umum Muhammadiyah dalam dua periode. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-45, ia kembali terpilih menjadi ketua umum untuk periode 2010-2015.


Sumber: https://www.twittsev.com/2020/04/24/carnivores-apk/